TRUST ME , IM SO SO JEALOUS.
WISH YOU KNOW HOW MUCH I CARE FOR YOU :'(


Teriknya matahari membakar raga. Ribuan keringat mengalir dari tubuh mungilku. Di tengah hari itu aku harus melangkahkan kaki ke sebuah sekolah untuk menemui temanku Irene ,untuk membicarakan urusan kecil dengannya. Namun, sayang. Sesampainya di sana ,aku hanya mendapati gedung sekolah yang sepi dan lapangan yang kosong. Tidak ada satu pun orang di sana dan aku hanya bisa terdiam sambil terus mencoba menghubungi Irene melalui ponselku. Tak ada jawaban dari ponsel mungil itu membuat aku semakin kecewa.
Ketika hendak melangkahkan kaki untuk berjalan pulang ,seorang anak laki-laki berkacamata dengan frame putih ,kawat gigi yang disesuaikan dengan warna giginya ,tas pundak hitam dan tidak lupa dengan senyum menawannya menyapaku. “Cari siapa?”,katanya lembut dengan senyum yang terus menghiasi wajah tampannya. “Irene , kenal ga ? Yang anak basket itu .” kataku dengan gugup sambil terus memandang wajah tampannya. “Oh iya kenal kok ,satu kelas di kelas 10 A tapi dia udah pulang.” Tiada henti aku memutar otak supaya pertemuan itu tidak segera berakhir. Aku masih ingin memandang wajahnya terlebih lagi senyumannya yang belum pernah ku temui senyuman seindah itu sebelumnya. Sebuah senyuman yang mampu menenangkan hatiku. “Oh Tuhan ,aku tidak mau pertemuan ini cepat berakhir.” ,gumamku dalam hati.
“Oh ya udah deh kalo gitu ,aku mau pulang duluan.” ,kata anak laki-laki itu membuyarkan lamunanku. “Oh iya ,makasih ya . Kalo boleh tau nama kamu siapa ? Supaya aku bisa cerita nanti ke Irene kalo aku bertemu dengan teman sekelasnya dan menanyakan dia padamu.” Sungguh sebuah alasan yang tak masuk akal yang pernah aku buat. “Oh ,namaku Alex” ,jawabnya singkat dan berlalu disusul oleh langkahku.
Setelah pertemuan itu ,tiada hentinya aku memikirkan Alex. Wajah Alex memenuhi pikiranku. Senyumannya memenuhi relung hatiku yang kosong. Suaranya membahana mengisi ruang kamarku. Sampai dering ponsel yang menandakan ada pesan masuk pun hampir tak ku hiraukan. Pesan dari Irene.
To : Anna
From : Irene
8 Januari 2007
18:27
Maaf yah ,tadi pulang duluan. Bis kamu lama banget sih ! Gmna kalo kamu datengnya hari kamis lagi aja. Tanggal 11 Januari ,gmn ?
Pesan singkat itu segera aku balas.
To : Irene
From : Anna
8 Januari 2007
18:30
Oke, bisa koq. Kebetulan pulang cepet hehehe… Ren, kenal yang namanya Alex ga ? Tadi aku ketemu dia. Dia yang ngasih tau ke aku kalo kamu udah pulang.
Tak berapa lama setelah pesan dikirim Irene membalas pesan Hanna.
To : Irene
From : Anna
8 Januari 2007
18:34
Kenallah . Kita kan sekelas hehehe. Yaudah mpe ketemu hari kamis yah .. Ntar kalo udah nyampe sekolah aku ,sms aja yah .
Setelah pesan terakhir dari Irene itu, aku pun terlelap ke dalam dunia mimpi tanpa menghapus sedikitpun bayangan Alex dalam benakku.
“Hah? Iya?” kata Anastasia terkejut mendengar ceritaku tentang anak laki-laki bernama Alex itu. “Orangnya gimana?” sambungnya yang masih penasaran. “Keren, mantep deh pokoknya. Dia pake behel terus kacamata. Suaranya lembut banget ! Menggetarkan hati hahaha. Udah gitu anaknya baik banget lagi. Dan yang paling menarik itu senyumannya. Manis banget ,ya ampun. Hahaha” Percakapan itu terus berlanjut sampai bel tanda masuk berbunyi menandakan semua siswa harus siap dengan pelajaran hari ini. Setiap pelajaran yang aku lewati di hari itu terasa berlalu begitu cepat. Dengan penuh semangat aku melewatinya satu persatu. Aneh ,tak biasanya aku seperti itu. Aku merasa lebih semangat dari biasanya. Apa yang terjadi ? Apa ini semua karena Alex ?
Hari-hari berjalan begitu cepat hingga tak terasa tanggal 11 Januari sudah bisa dimasuki hanya dalam hitungan detik. Aku pun masih terjaga dalam bayangan Alex yang tak kunjung lenyap. Rasa grogi meliputi jiwa dan perasaanku. Pikiranku melayang pada esok hari yang akan menjadi hari kedua pertemuan aku dengan Alex. Tetap terjaga dan hanya mampu diam ditemani alunan lagu Paint My Love yang dipopulerkan oleh MLTR yang terdengar melalui ponselku. Namun ,tak berapa lama setelah lagu tersebut usai,mataku pun terpejam hingga fajar membangunkanku.
“Anas, Octa !” ,teriakku memanggil kedua sahabatku di ruang kelas yang sudah mulai ramai. “Temenin aku yuk, hari ini ke sekolahnya Irene.” ,kataku dengan nafas yang terengah-engah. “Ngapain, sob ?” ,jawab Octa seraya menyalin pr temannya. “Mau ketemu Irene, ada urusan gitu. Gimana ? Mau ga ?” Mereka terdiam sejenak dan saling menatapku dengan heran. Sampai akhirnya Anastasia angkat bicara, “Kamu kenapa ? Ga biasanya bersemangat kaya gini kalo mau ke sekolah Irene. Karena ada Alex ya ? hehehe”, katanya dengan gaya ledekkannya yang khas. ”Cie Hanna, siapa tuh Alex ? hehehe. Kenalin dong !”,kata Octa yang ikut meledek. “Apaan sih ?! Yeh ,aku aja belum begitu kenal siapa dia. Baru ketemu 3 hari yang lalu.”
“Oh ,kirain si cantik yang satu ini sudah ada yang punya. Hehehe. Ya udah kita temenin deh. Eh ajak Dita juga ya !” ,kata Anastasia. “Iya ajak si Dita tuh ,kasihan. Oh iya ngomong-ngomong, selain karena mau ketemu Irene,kamu ke sana karena mau liat si Alex juga kan ? Mau kenalan gitu ? Ayo ngaku aja ! hehehe .” ,kata Octa menyambung ucapan Anastasia dengan sedikit meledek. “Iya eh nggaklah . Aduh udah ah jangan dibahas.” ,kataku gugup dengan wajah yang mulai memerah. “Tuh kan bener ,nas. Dia ke sana buat ketemu abang Alex. Ciee, Cuit-cuit.”, ledek Octa tiada henti diiringi tawa Anastasia yang tiada habisnya. Aku pun hanya bisa menahan tawa dengan wajah merahnya. Sampai bel tanda masuk berbunyi menghentikan canda tawa kami.
Detik , menit dan jam terus berjalan. Pelajaran demi pelajaran berlalu hingga tiba di akhir pelajaran terakhir. “Kring !!”,bel tanda sekolah berakhir pun berbunyi. Dan dengan semangat aku beserta teman-temanku segera meninggalkan sekolah dan menuju sekolahnya Irene. Selama perjalanan ,rasa grogi terus melingkupi perasaanku. Semakin dekat dengan sekolah Irene pun mukaku makin memerah dan hatiku tiada hentinya mengucapkan harapan untuk bertemu Alex kembali. Sesampainya di sana ,ribuan pasang kaki berlomba keluar dari gerbang gedung itu. Ribuan wajah aku amati satu per satu hendak menemukan wajah yang ingin aku temui. Salah satu dari ribuan pasang sepatu itu berhenti di hadapannya dan berkata,”Anna ? Ngapain ke sini ?” Aku sempat terkejut sejenak ,lalu akhirnya berkata,”Eh,vin. Aku nyari Irene, udah janjian ketemu sih tapi dari tadi belum ketemu. Liat Irene ga ,vin?” Vina adalah teman gerejaku. Vina juga merupakan temannya Irene dan Alex. “Oh Irene masih di dalem. Tunggu aja di sini. Aku temenin deh. Oh iya ,kamu ke sini sama siapa ?”
“Sama temen-temen aku. Tuh lagi pada jajan. Ntar juga mereka ke sini.”, kataku sambil menunjuk Octa,Anastasia, Dita. Tak lama setelah percakapan singkat antara aku dan Vina, tiba-tiba pandanganku tertuju pada sosok yang beberapa hari ini mengisi kehampaan hari-hariku. Kali ini orang itu memakai kawat gigi merah dengan tas selempang yang terlihat keren dipakainya. Aku menatapnya tiada henti dan demikian juga dia. Namun ,hanya bertatapan saja yang mampu kami lakukan. “Kenapa, naa ?”, tanya Vina menganggetkanku. “Engga kok. Eh ,Vin. Kenal yang namanya Alex ? Kenalin dong hehehe. Kayaknya dia anaknya baik yah!” Vina menatapku sejenak lalu tertawa kecil. “Hahaha. Suka yaa ,na ? Ciee hehe. Ntar yaa ,aku panggilin anaknya.”. Sebelum kata-kataku terucap, Vina sudah berada tak jauh dari Alex dan membisikkannya sesuatu. Dengan langkah pasti, Vina,Alex dan satu teman Alex datang menghampiriku.
Kini Alex berada tepat di hadapanku. Ia menatapku dengan senyumannya yang menawan. Aku hanya bisa tertunduk dan tersipu malu sampai setuhan tangan lembutnya terulur menanti balasan uluran tanganku. “Alex” ,katanya singkat tanpa sedikitpun memalingkan wajah dari hadapanku. Aku gugup. Aku malu ,namun akhirnya tanganku pun berhasil terulur dan sekarang ada dalam gengaman tangannya. “Oh Tuhan , sungguh indah hari ini. Jangan biarkan semuanya cepat berakhir.” ,gumamku dalam hati dan tetap terdiam terpaku. Hingga Alex pun berkata, “Namanya siapa ?” lalu dengan singkat aku menjawab, “Anna.”
“Nama yang bagus.” ,sambungnya lagi. Sejak kejadian manis itu ,aku dan Alex mulai menjalin komunikasi. Yaa ,walaupun tidak langsung tapi aku merasa amat bahagia. Dunia terasa indah ,lengkap dipenuhi jutaan cinta. Tak salah pula aku menilai dia. Dia memang anak yang baik. Buatku di adalah pria yang sempurna. Aku beri dia nilai 10. Semua yang terjadi pada hari itu sungguh indah dengannya ,sampai – sampai rencanaku bertemu dengan Irene ,terlupakan begitu saja .
Kata-kata yang terucap dari bibir manisnya selalu terniang dalam telingaku. Dan memberikan semangat tersendiri bagi ragaku. Dia pernah berkata, “Anna pasti bisa !” Dia berkata dengan senyuman yang terlukis indah di wajahnya. Suatu ketika aku datang ke sekolahnya sekitar pukul 14:30. Aku datang dengan wajah sedih dan kecewa karena sedang ada masalah. Alex menghampiriku. Dia menghiburku dan dia rela menemaniku padahal sebentar lagi ekskul tennis meja yang ia ikuti mulai. Teman-temannya sudah menyuruhnya untuk segera ke tempat ekskul diadakan supaya tidak terlambat datang dan tidak di hukum tapi dia malah bilang, “Ahh biarian aja. Di hukum mah udah biasa. Aku mau menemani Anna di sini. Kasihan dia lagi sedih.” Betapa baiknya dia membuatku semakin menggilainya.
Di bulan September yang di penuhi rintik-rintik hujan ,Alex datang ke sekolahku hanya untuk memberikan novel padaku. Rintik hujan yang membasahi raganya ,tak dihiraukannya sama sekali. Begitu banyak detik-detik yang aku dan Alex lewati yang bagiku merupakan detik terbaik selama hidupku. Detik-detik yang mengubah hidupku. Membuatku menjadi pribadi lebih baik.
“Anna ,tau ga ? Tanggal 5 November si Alex ulang tahun lho ! Udah nyiapin hadiah?”,kata Octa di tengah-tengah istirahat sekolah. “Iyaa ??? yahh .. belum,ta. Bingung mau ngasih apa. Menurut octa kasih apa ? lagi ga ada uang juga. Hahha” Octa mengembangkan senyumnya dan berkata,”Lagu aja. Hehehe. Kamu rekam sebuah lagu ciptaanmu sendiri di dalam kaset. Kasetnya kasih ke Alex. Di dalam kaset itu kamu sendiri yang nyanyiin lagunya make instrument piano yang kamu juga yang maenin hahhaha. Gimana? “
“Hah ???!! Kamu gila ya ??” ,kataku terkejut. “Nggalah , buat hadiah yang bikin dia berkesan. Lain daripada yang lain. Demi Alex lho hehehe.” Lagi-lagi aku terkejut. Tapi kali ini terkejutku tanpa mengeluarkan suara melainkan berpikir. Kata-kata Octa terus melintas dalam benakku. Mungkin kata-kata dia ada benarnya juga. Aku akan mencoba memberikan hadiah terbaik untuk Alex.
Hari-hari berikutnya, perlahan namun pasti aku mulai merangkai nada. Aku mulai memadukan simfoni dalam lirik dan irama. Aku terus berusaha ,sampai suatu ketika,”The Candle of My Heart, yaa itu judul lagunya.” Kataku riang tak terkira. Dalam waktu kurang dari 1 bulan sebuah lagu berirama pop tercipta untuknya. Perjuanganku ternyata belum selesai. Aku harus berlatih piano dalam kurun waktu 1 minggu. Sungguh melelahkan. Di sela-sela latihan piano terkadang aku suka menangis karena merasa tidak sanggup. Tapi jika teringat senyum manisnya, semangatku muncul kembali. Dan kini semua telah siap, tak sabar aku ingin memberikan lagu ini untuknya.
“Octa ,lagu buat Alex udah jadi. Hehehe.” ,kataku kepada Octa dalam ponsel. “Gilaa, baru aku angkat telponnya ,udah nyerocos aja nih anak. Hahaha! Baguslah kalo begitu. Udah direkam,naa ?” ,katanya dengan nada penasaran. “Belum tapi pasti akan secepatnya aku rekam.” Perbincangan singkat itu pun berakhir dan dengan sigap aku langsung menuju sebuah piano usang di pojok ruang keluarga. Piano yang sudah terselimuti oleh debu karena sudah lama tak terpakai kini harus ku pakai kembali. Ku tiup butiran halus debu itu dan mulai menekan tutsnya. Ternyata piano usang ini masih berfungsi dengan baik walaupun sudah sekitar 3 tahun tak terpakai.
Ku mainkan nada , ku nyanyikan syair dan ku rekam dalam sebuah kaset yang nanti akan ku berikan kepada Alex pada hari ulang tahunnya. Tanpa sengaja ku teteskan air mata. Entah apa yang terjadi padaku. Mengapa aku menangis ? Apakah ini semua karena rasa suka itu telah berubah menjadi sayang yang mendalam ? Atau hanya karena aku yang terlalu menghayati lagu saja ?
“Lagunya sudah jadi dan kini sudah tersimpan dalam kotak kecil yang besok akan ku berikkan kepada Alex. Di dalam kotak itu pun sudah ku sisipkan sepucuk surat.” ,kataku dalam hati. Tanggal 4 November pukul 23:45 ,aku masih terjaga. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Terus terjaga dalam keheningan malam sampai akhirnya tiba pukul 23:59. Aku pun segera mengirimkan dia sms dan segera tertidur tanpa melihat atau menunggu balasan darinya.
Fajar datang menyingsing ,membangunkanku dari kelelapan semalam. Terlihat tanda 1 pesan baru telah aku terima dalam ponselku.
To : Anna
From : Alex
5 November2007
05:00
Thank’s buat ucapannya. Kamu orang pertama yang ngucapin lho. Hehehe
Jbu ..
Sungguh ,itu adalah sebuah pesan yang mampu membuat mata ku tak mengantuk lagi dan mampu membuatku tersenyum seharian.
“Vin ,tolong kasih ini ya ke Alex.” ,kataku singkat saat berpapasan dengan Vina di depan rumahku. Oh iya ,aku lupa menceritakan kalau rumah aku dan Vina berdekatan. Kami tetanggaan. ” Apaan nih ,na ?” ,katanya dengan penasaran. ”Ada deh hehehe. Kasih aja. Dia kan hari ini ulang tahun. Salam ya buat dia. Thank’s vin ! Oh iya ,aku duluannya. Bye.” Sebelum sempat mendengar balasan ucapan dari Vina ,aku sudah melangkahkan kakiku seribu langkah ke depan.
Rasa gugup menemaniku seharian. Setiap detik aku melihat layar ponsel berharap sms Alex muncul dengan ucapan terima kasih atau semacamnya. Pagi , siang , sore dan kini hari memasuki malam. Tak ada sms atau telpon darinya. Aku terus menungu. Jam sudah mendekati waktu tengah malam. Tiba-tiba sebuah sms masuk. Ternyata itu dari Alex.
To : Anna
From : Alex
5 November2007
23:50
Sebuah melodi yang terindah yang pernah ku dengar. Aku amat menyukainya. Sungguh ,dari semua hadiah yang aku terima hari ini hanya hadiah darimu yang mampu menyentuh hatiku. Suratmu pun ,amat menyentuh. Terima kasih untuk semuanya, Hanna. Ulang tahunku kali ini menjadi lebih special karenamu. JBU =)
Tak mampu aku berkata-kata. Aku hanya bisa terdiam memandang layar ponselku dan tersenyum lebar tiada henti. Pikiranku melayang pada surat yang ku tulis untuknya. Isi surat itu adalah:
Dear Alex ,
Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata dalam syair .
Aku juga bukan musisi yang pandai membuat nada dalam simfoni.
Aku tak punya apapun yang berharga yang bisa ku beri di hari ulang tahunmu ini.
Yang mampu ku berikan padamu adalah kasih yang akan dengan sendirinya membentuk simfoni dalam hatimu dan melodi dalam jiwamu.
Happy birthday !
Yours ,
Anna